Dari Lampu Darurat ke Lampu Dekoratif

By admin • Jun 24th, 2008 • Category: Artikel

Oleh Ir. Handoyo

Sekarang ini di Indonesia terutama di kota – kota besar terdapat banyak perusahaan yang bergerak di bidang perlampuan yang salah satunya adalah Listrindo. Ide untuk mendirikan Listrindo mula – mula di dasarkan pada pengelaman masa lalu ketika pendirinya masih studi di salah satu perguruan tinggi terkenal di bandung. Pada waktu itu sering kali lampu dari PLN mati di malam hari sehingga mengganggu kegiatan mahasiswa. Kemudian ia mendapat ide untuk membuat / merakit sendiri lampu darurat dari baterai yang dihubungkan / direlai ke listrik sehingga apabila lampu padam – lampu darurat tersebut akan menyala dengan sendirinya. Setelah menyelesaikan studi penulis yang juga adalah pendiri Listrindo kemudian melanjutkan ke terlibatannya pada lampu darurat dengan bergabung pada suatu perusahaan yang memproduksi lampu –

lampu darurat. Pada waktu itu pemasaran hasil produksi dilakukan sendiri ke berbagai kota di pulau jawa. Dengan keiinginan untuk dapat lebih berkembang, penulis kemudian melepaskan diri dari perusahaan tersebut dan mendirikan Listrindo yang pada mulanya hanya beberapa home industry dan sedikit memasarkan lampu – lampu dekorasi local atau inport.

Mengingat perusahaan ini harus dapat hidup dan bersaing dengan perusahaan sejenis penulis merasa perlu untuk memperluas wawasan untuk meningkatkan mutu citra perusahaan. Untuk itu dilakukan peminjaman ke berbagai perusahaan lampu di luar negeri (Eropa), demikian juga ke pameran – pameran lampu internasional. Di Belgian penulis mengunjungi perusahaan lampu yang kebetulan mengeksport produksinya ke Indonesia melalui Listrindo. Disana penulis mengamati dari dekat proses produksi sejak dari design produk, pengecatan, penyetelan serta pemasaran. Di Italy penulis berkesempatan mengunjungi dan melihat – lihat pabrik lampu Kristal Murano, dan di beberapa lagi di dekat Venesia yang bagaikan daerah pengrajin Kristal.

Pada tahun 1991 terdapat pameran lampu di hanover, Jerman yang merupakan pameran lampu yang besar yang menempati tiga gedung khusus. Pada pameran tersebut datang dari perusahaan lampu Eropa, Jepang, Taiwan, dsb. Pada waktu melihat pameran tersebut penulis merasa bahwa di bidang ini Indonesia harus masih bekerja keras mengejar ketinggalan dari Negara lain. Selain di bidang produksi, bidang pemasaranpun masih harus berbenah diri. Pada umumnya perusahaan besar di Eropa sudah memiliki kode etik untuk tidak menjatuhkan harga design, walaupun persaingan di antara mereka sangat ketat. Satu hal yang paling berharga di perusahaan itu adalah design. Begitu berharganya design ini sehingga banyak perusahaan yang hanya mengkhususkan diri di bidang kemajuan dunia perlampuan, Listrindo pun makin berkembang baik karyawannya mampun mesin – mesinnya. Selama lebih dari 10 tahun berkecimpung di dunia perlampuan perusahaan ini telah bekerja sama dalam bidang design interior, exterior, misalnya dengan HDII, konsultan interior seperti Hadiprana, AT6, Raka Utama, dan dengan perusahaan besar seperti Barito Group, BCA, Lippo, Total, dan dengan hotel berbintang di Bali seperti Horizon, Hilton, dll di bidang pertamuan perusahaan ini di percaya membuat lampu – lampu jalan protocol DKI seperti di bundaran HI, Thamrin, Lapangan Banteng, Kemayoran (PRJ). Selain itu juga lampu taman di real estate Bumi Serpong Damai, Taman Rempoa, Bougenville di puncak, dan di perumahan elite di Pondok Indah Golf, Simpruk dll. Tempat ibadah seperti Masjid Raya Pondok Indah, Gereja Salvator, Shopping centre Segitiga Senen, Asia Afrika di Bandung pun mendapat lampu – lampu dari Listrindo. Untuk memenuhi pesanan semakin banyak dan untuk mengembangkan design yang lebih baik, pada bulan juli 1992 penulis berkunjung ke Australia dan Amerika untuk melihat lampu – lampu yang digunakan di gedung – gedung , jalan – jalan, tempat hiburan dll. Hawai, Los Angeles, Hollywood dan San Fransisco, serta Las Vegas adalah kota – kota yang tak pernah gelap selama 24 jam. Dapat di banyangkan dari sore hingga pagi lampu – lampu gemerlapan bagai siang hari, begitu mewah dan megah. Sebagian besar pertokoan di sana buka 24 jam dengan cahaya lampu beraneka warna terutama di hotel – hotel besar seperti Caesar Palace, dan Hilton, ruang kasino dan tempat hiburan malam. Di Mirage Hotel terdapat interior yang konon menggunakan tanaman pohon dari Bali. Tidak seperti barang kerajinan, baju dll. Lampu – lampu dari Indonesia hampir tak dapat dikenal / dijumpai di sini ataupun Negara lain. Mudah – mudahan beberapa tahun lagi akan banyak produksi lampu Indonesia yang dipakai Negara – Negara besar seperti : Amerika, Australia dan Eropa. Berdasarkan hasil kunjungan tersebut dapat di pelajari bahwa lampu – lampu yang dipasarkan di negara besar kebanyakan produksi Italia. Jerman, Jepang dan Taiwan dengan harga yang relative terjangkau oleh kantong mereka. Lampu buatan Taiwan telah tersebar di dunia perdagangan termasuk Indonesia. Di negara tersebut penulis dapat melihat dari dekat cara mereka memproduksi lampu yang kebanyakan home industry kecil – kecil sehingga harga dapat ditekan menjadi sangat rendah dengan kualitas yang tidak begitu baik. Ketika barang tersebut di eksport ke negara lain banyak komponen yang lepas / hilang / tertinggal yang mungkin di sengaja untuk tujuan tertentu demi kepentingan perusahaan. Berbicara mengenai kualitas produk, di Indonesia pun penyelesain akhir masih kurang sempurna. Ini mungkin disebabkan oleh tidak terpenuhi waktu pemrosesan produk sesuai ketentuan sehingga mengerjakan barang – barang / produk terkesan terburu – buru dan kwalitas pun tidak dapat bersaing dengan produk import. Apabila produsen menyadari kekurangan akan ketetapan waktu dan kwalitas maka produk Indonesia dapat bersaing dengan produk import. Para produsen Indonesia perlu menjalin kerja sama yang baik antara sesamanya sehingga mereka akan saling dapat melengkapi kekurangan sehingga sanggup berhadapan dengan produksi import yang harganya relatif mahal. Lampu – lampu dekorasi memerlukan design khusus, terutama dalam housing (rumah lampu)nya. Untuk menciptakan lampu dengan housing yang unik (khas Indonesia) kita bisa mempelajari ornament dari Bali, Yogya, dan daerah lain di Indonesia. Ornament – ornament tersebut dapat dijadikan besar dan dikembankan untuk mendesign rumah lampu. Indonesia banyak memiliki tenaga terampil sehingga yang dibutuhkan hanyalah penyelesain akhir, bentuk yang menarik (sesuai selera yang disukai masyarakat), dan ketetapan waktu dalam memenuhi pesanan. Apabila hal tersebut di atas telah dicapai maka produk local pun tidak akan kalah dengan produk import, dan dengan sendirinya akan mendapat kepercayaan dari pemilik gedung. Dengan demikian kita akan bangga menghiasi kota, bangunan, jalan dan taman dengan lampu – lampu buatan dalam negeri yang eksekutif. Jadi dengan bentuk / housing yang berornamen menarik, akan menambah indah dan astir dimana lampu itu di pasang sehingga selain fungsional juga extetis. Walaupun kita saat ini telah mulai melangkah kepembangunan yang makin pesat, dunia perlampuan Indonesia pun akan maju lagi dengan di langsungkannya pameran Ilumindo ’93

GAMBAR

Tagged as: , ,

admin is
Email this author | All posts by admin

One Response »

  1. Hi there,
    Interesting, I`ll quote it on my site later.

    Thank you
    Elcorin

Leave a Reply